<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Televisi Teman Terburuk</title>
	<atom:link href="http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/</link>
	<description>Bukan Sambel Terasi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2009 08:34:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Televisi Guru Yang Jahat ? &#171; ARISTO RAHADI Blog</title>
		<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-169</link>
		<dc:creator>Televisi Guru Yang Jahat ? &#171; ARISTO RAHADI Blog</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 03:11:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-169</guid>
		<description>[...] Guru Yang Jahat&#160;?  Ditulis pada 8 April, 2008 oleh Aristo   Sebuah posting  menyebutkan bahwa hanya 15% acara televisi (TV) yang aman ditonton anak-anak, dan 85% lainnya [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Guru Yang Jahat&nbsp;?  Ditulis pada 8 April, 2008 oleh Aristo   Sebuah posting  menyebutkan bahwa hanya 15% acara televisi (TV) yang aman ditonton anak-anak, dan 85% lainnya [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Tumes_semuT</title>
		<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-161</link>
		<dc:creator>Tumes_semuT</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 15:09:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-161</guid>
		<description>maksud menulis posting diatas dengan menyebutkan sederet bahaya dan kejelekan televisi adalah menggugah dan mengorek kesadaran untuk bisa memanfaatkan teknologi dengan lebih baik dan jangan sampai semua yang tersaji kita telan dengan sukarela karena seharusnya kita bisa mendapatkan yang jauh lebih baik lagi dan seandainya belum bisa mendapat yang lebih baik kenapa yang merugikan tidak kita hentikan saja (sementara?), meniscayakan teknologi (televisi) juga gak mungkin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maksud menulis posting diatas dengan menyebutkan sederet bahaya dan kejelekan televisi adalah menggugah dan mengorek kesadaran untuk bisa memanfaatkan teknologi dengan lebih baik dan jangan sampai semua yang tersaji kita telan dengan sukarela karena seharusnya kita bisa mendapatkan yang jauh lebih baik lagi dan seandainya belum bisa mendapat yang lebih baik kenapa yang merugikan tidak kita hentikan saja (sementara?), meniscayakan teknologi (televisi) juga gak mungkin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Tumes_semuT</title>
		<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-160</link>
		<dc:creator>Tumes_semuT</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 15:02:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-160</guid>
		<description>Salam juag kenal bang Aristo, senang sekali sampean berkunjung dan membaca tulisan saya apalagi ternyata punya pandangan yang sama dan kebetulan juga ini bidangnya sampean. 

untuk masalah link dan refer, monggo saja dengan senang hati di link</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam juag kenal bang Aristo, senang sekali sampean berkunjung dan membaca tulisan saya apalagi ternyata punya pandangan yang sama dan kebetulan juga ini bidangnya sampean. </p>
<p>untuk masalah link dan refer, monggo saja dengan senang hati di link</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Aristo</title>
		<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-159</link>
		<dc:creator>Aristo</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 13:51:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-159</guid>
		<description>Bang, tukang sambel. Saya tertarik dengan posting anda ini. Kebetulan  ini bidang kerjaan saya. Saya mohon ijin tulisan anda dan komen saya ini aku link, refer dan terbitkan  di blog saya. Blog anda bagus, bisa jadi inspiratorku.   Tk</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang, tukang sambel. Saya tertarik dengan posting anda ini. Kebetulan  ini bidang kerjaan saya. Saya mohon ijin tulisan anda dan komen saya ini aku link, refer dan terbitkan  di blog saya. Blog anda bagus, bisa jadi inspiratorku.   Tk</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Aristo</title>
		<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-155</link>
		<dc:creator>Aristo</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 13:07:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-155</guid>
		<description>Pengamatan anda banyak benarnya. saya sependapat itu. Namun semua teknologi (termasuk TV), ibarat pisau bermata dua. Semua tentu tahu, bahwa selain (diharapkan) membawa manfaat, namun tak ayal banyak juga(ternyata) mudaratnya. antara lain seperti anda tulis.  terlepas dari itu, kita tak mungkin menghindar dari kehadiran teknologi.  Di  jaman flenstone dulu,  orang memusuhi tekologi pisau, karena dianggap barang berbahaya, bisa membunuh orag. Tapi sekarag, siapa orang yang tak menyimpan pisau di dapur.  Jadi,  yang perlu kita pikirka terhadap kehadiran tekologi adalah bagaimana mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat.  Ini memang terdengar sangat klise, tapi ya begitulah seharusnya.  Ini pekerjaan berat, susah diwujudkan.  Kembali ke persoalan  peran media massa (termasuk TV).  Tak bisa dipungkiri, dewasa ini media telah menjadi bagian penting dalam   kehidupan kita. Di negara maju, media telah mempengaruhi hampir sepanjang waktu hidup seseorang.  Bahkan  seorang insinyur ternama Amerika Serikat, B. Fuller mengatakan bahwa media telah menjadi “orang tua ketiga” bagi anak (guru adalah orang tua kedua).  sayangnya,  si orang tua baru bagi anak-anak kita ini tak selalu mampu mendidik anak-anak kita.  Ttutan bisnis, barang kali memaksa  stasiun TV untuk tak bisa berbuat  yang lebih edukatif  dari  itu.  Membuat program acara TV  yang mendidik  memang tak mudah. Kalupun ada mungkin mahal, tak menarik ata tak laku jual.. Itulah repotnya.  Ibarat minuman, media pendidikan itu ibarat jamu. Dianggap penting, tapi tak enak rasanya.  Sedangkan media  intertaiment itu ibarat cocacola, Kalo kepada anak diminta  bebas memilih, yang sudah pasti akan pilih minm cocacola dibandng jamu hheee (saya juga)..  Yang harus kita lakukan sekarang adalah, bagaimana membuat jamu rasa cocacola.  Bagaimana membuat program Tv yang mendidik sekaligus menghibur anak. Bagaimana membuat anak suka seolah-olah merasa sedang  nonton   hiburan, padahal ia sedag belajar melalui Tv,  Nah susah kan?  Itu pekerjaan yang sedang saya tekuni saat ini.  Salam kenal.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pengamatan anda banyak benarnya. saya sependapat itu. Namun semua teknologi (termasuk TV), ibarat pisau bermata dua. Semua tentu tahu, bahwa selain (diharapkan) membawa manfaat, namun tak ayal banyak juga(ternyata) mudaratnya. antara lain seperti anda tulis.  terlepas dari itu, kita tak mungkin menghindar dari kehadiran teknologi.  Di  jaman flenstone dulu,  orang memusuhi tekologi pisau, karena dianggap barang berbahaya, bisa membunuh orag. Tapi sekarag, siapa orang yang tak menyimpan pisau di dapur.  Jadi,  yang perlu kita pikirka terhadap kehadiran tekologi adalah bagaimana mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat.  Ini memang terdengar sangat klise, tapi ya begitulah seharusnya.  Ini pekerjaan berat, susah diwujudkan.  Kembali ke persoalan  peran media massa (termasuk TV).  Tak bisa dipungkiri, dewasa ini media telah menjadi bagian penting dalam   kehidupan kita. Di negara maju, media telah mempengaruhi hampir sepanjang waktu hidup seseorang.  Bahkan  seorang insinyur ternama Amerika Serikat, B. Fuller mengatakan bahwa media telah menjadi “orang tua ketiga” bagi anak (guru adalah orang tua kedua).  sayangnya,  si orang tua baru bagi anak-anak kita ini tak selalu mampu mendidik anak-anak kita.  Ttutan bisnis, barang kali memaksa  stasiun TV untuk tak bisa berbuat  yang lebih edukatif  dari  itu.  Membuat program acara TV  yang mendidik  memang tak mudah. Kalupun ada mungkin mahal, tak menarik ata tak laku jual.. Itulah repotnya.  Ibarat minuman, media pendidikan itu ibarat jamu. Dianggap penting, tapi tak enak rasanya.  Sedangkan media  intertaiment itu ibarat cocacola, Kalo kepada anak diminta  bebas memilih, yang sudah pasti akan pilih minm cocacola dibandng jamu hheee (saya juga)..  Yang harus kita lakukan sekarang adalah, bagaimana membuat jamu rasa cocacola.  Bagaimana membuat program Tv yang mendidik sekaligus menghibur anak. Bagaimana membuat anak suka seolah-olah merasa sedang  nonton   hiburan, padahal ia sedag belajar melalui Tv,  Nah susah kan?  Itu pekerjaan yang sedang saya tekuni saat ini.  Salam kenal.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Gedang_ngadeG</title>
		<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-11</link>
		<dc:creator>Gedang_ngadeG</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2008 22:26:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-11</guid>
		<description>yo gak popo cak, semakin akeh semakin apik iso teko dari macem-macem pandangan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yo gak popo cak, semakin akeh semakin apik iso teko dari macem-macem pandangan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: pelanggar</title>
		<link>http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-9</link>
		<dc:creator>pelanggar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2008 18:28:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sambelpetisabang.wordpress.com/2008/01/12/televisi-teman-terburuk/#comment-9</guid>
		<description>Wah, kedisikan nulis tentang teve, rek... Tapi gak opolah.. mesti  bedo, kan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, kedisikan nulis tentang teve, rek&#8230; Tapi gak opolah.. mesti  bedo, kan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
