Sabtu, 12/01/2008

Hidup di Era Layar
Sabtu, 12/01/2008

TEKNOLOGI canggih melahirkan era layar.Waspadai agar tak merusak pertumbuhan fisik dan jiwa si kecil. Serbalayar, itulah gaya hidup manusia modern masa kini. Mulai dari layar TV, VCD, PlayStation (PS), internet, hingga handphone (HP).
“Umumnya orangtua tidak tahu dampak yang ditimbulkan oleh berbagai layar ini. Selain karena gaptek (gagap teknologi), mereka juga tidak siap ketika anaknya harus hidup di era layar,” ujar Elly Risman, psikolog dan trainer dari Yayasan Kita dan Buah Hati. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin menghadirkan banyak kenyamanan dan kemudahan, tapi sekaligus menghadiahkan tantangan luar biasa dalam pengasuhan anak.
Bagi ibu rumah tangga yang seharian di rumah, kegiatan nonton TV terkadang menjadi aktivitas rutin yang berlangsung berjam-jam, bahkan seharian. Bila yang bersangkutan memiliki bayi atau anak kecil, otomatis gaya hidup sang ibu menurun pada anaknya. Karena itu jangan heran kalau sedari kecil si anak sudah“lengket”dengan layar televisi. “Glued to the tube”, begitulah berbagai media asing menggambarkan keintiman anak-anak dengan televisi dan betapa layar bergambar ini telah menjadi “baby sitter” bagi mereka.
Hasil penelitian YPMA 2002 menyebutkan, jumlah rata-rata waktu anak menonton televisi adalah 30-35 jam per minggu atau 1.560-1.820 jam per tahun. Padahal, jam belajar si anak hanya 1.000 jam per tahun. Salah satu dampak dari gelombang sinar yang dipancarkan layar seperti layar televisi adalah suatu sifat addict dalam menonton. Hal itu juga terkait laporan The Child Obesity Summit 2005, yang menyebutkan bahwa iklan TV merupakan kontributor utama obesitas pada anak-anak.
Tak hanya televisi,menurut Elly Risman, banyak orangtua yang dengan tujuan “membayar kekurangan waktu bersama” anak atau dengan dalih gengsi dan bukti kasih sayang, kemudian menghadiahi sang anak de- ngan berbagai peralatan elektronik seperti MP3 dan HP. Bahkan, saat ini banyak anak-anak TK yang mengantongi HP ke sekolah. Belum lagi orangtua yang membekali anaknya untuk bermain PS atau ke warnet sehingga mereka betah berjam-jam nongkrong di tempat itu.
“Jumlah waktu anak main PS sekitar 10 jam per minggu. Itu belum termasuk internet dan HP,”kata Elly. Secara bijak, tampaknya setiap orangtua harus mempertimbangkan dan memperhitungkan manfaat dan pengaruh teknologi era layar pada anak. Jika lalai, era layar dapat memengaruhi otak, mata, dan jiwa serta perilaku anak-anak.“Khusus untuk televisi, harus disepakati juga mengenai posisi menonton,” tutur psikolog kelahiran Aceh ini. Posisi menonton yang dikemukakan Elly terkait dampak radiasi layar terhadap kesehatan mata anak,utamanya pengaruh sinar biru yang beberapa tahun terakhir men-jadi sorotan media.
Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang cahaya 400-500 nm yang dapat berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan menimbulkan luka fotokimia pada retina mata anak.Bayangkan jika anak seharian nonton TV,berapa banyak sinar biru yang masuk dan merusak bola matanya yang bening. Sumber sinar biru yang paling dekat dengan anakanak salah satunya adalah sinar dari layar televisi.Padahal, lensa mata anak masih jernih dan peka sehingga belum dapat menyaring bahaya sinar biru.
Akibatnya, risiko terbesar kerusakan ditemui pada usia dini. Lutein diyakini sebagai salah satu zat carotenoid alami yang dapat membantu melindungi mata anak dari kerusakan dengan cara menyaring sinar biru dan berperan sebagai antioksidan yang menetralisasi radikal bebas.Namun,menurut Dr Hardiono D Pusponegoro SpA(K) dari Bagian Ilmu KesehatanAnak FKUI-RSCM, tubuh kita tidak dapat mensintesis lutein.“Kebutuhan lutein harus diambil dari sayuran, buah, suplemen, terutama dalam ASI,”paparnya. (inda susanti)

Diambil dari http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/kids/hidup-di-era-layar-3.html

Artikel ini lagi-lagi menunjukkan dan menjelaskan betapa bahayanya TV yang sebenarnya dihadirkan untuk anak-anak dan kita dengan berbagai alasan dan cara. Kalau memang tidak bisa mengambil langkah ekstrim dengan menyingkirkan TV atau benda berlayar lainnya dari rumah, selain memberikan waktu bersama anak-anak lebih banyak lagi orang tua dan orang dewasa harus memperlakukan kontrol yang lebih ketat lagi juga memberikan contoh yang baik tidak hanya asal melarang tapi kita malah habis-habisan melakukannya. Selain itu juga dituntut untuk tidak gaptek biar paham cara-cara penggunaan yang benar dan juga menyadari efek negatif yang ditimbulkan.
Tidak sekedar melarang ini yang penting, tapi harus diikuti dengan menyediakan hiburan alternatif seperti membaca atau permainan yang mengembangkan kreativitas dan kemampuan fisik anak. Jadi intinya tidak menyerahkan anak tanpa syarat untuk dihibur, diasuh dan menjadi sahabat barang berlayar…

1 Komentar

  1. Photo Booth by Expressions Cinema

    Sabtu, 12/01/2008 | Sambel Petis Abang


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s