Televisi Teman Terburuk

Bukan sekedar teman terburuk bahkan ada ungkapan bahwa
Televisi adalah barang yang lebih berguna bila
dimatikan. Bener gak?
Ada sebuah penelitan dari Tim Penggerak PKK Surabaya
yang dimuat Antara bahwa acara televisi (TV) yang aman
ditonton anak-anak hanya sekitar 15 persen, lah yang
85 persen lagi tidak aman bukankah seharusnya tidak
ditonton bahkan seharusnya tidak ditayangkan jika KPI
dan LSF lebih tegas lagi bekerja. Sebetulnya banyak
sekali yang menyuarakan tentang bahaya TV bagi anak,
TV yang sebetulnya sangat dibutuhkan sebagai sarana
penyaji informasi dan juga media hiburan saat ini
dianggap lebih banyak bahayanya daripada manfaat yang
bisa didapat.
TV menjadi semakin berbahaya dengan semakin banyaknya
pasangan suami istri yang bekerja, otomatis anak di
rumah hanya akan menyantap dan bersabat dengan TV yang
memang menjadi media hiburan murah meriah tanpa ada
filternya atau kontrol dari orang tua. Salah satu dari
dampak buruk TV bagi perkembangan anak adalah obesitas
karena selama nonton TV anak tentu akan bergerak
sangat minimal ini menyebakan terjadinya ketidak
seimbangan energi yang masuk dan digunakan karena
selama nonton TV anak biasanya ngemil. Obesitas ini
tidak hanya berakibat buruk bagi kesehatan dengan
seabreg penyakit yang bisa dipicunya tapi ternyata
juga mempengaruhi psikologis anak jika terbawa hingga
dewasa.
Bagi anak remaja atau yang sedang beranjak remaja
tayangan hiburan yang biasanya di isi dengan tayangan
sinetron yang kebanyakan hanya berisi kekerasan,
cinta, mistik dan misteri kebanyakan tidak memberikan
pesan moral yang sehat kepada para penontonnya, apa
jadinya remaja kita yang sedang beranjak dewasa yang
sedang dalam tahap perkembangan untuk mencari
identitas disodori dan dicekoki setiap hari dengan
penyimpangan-penyimpangan “bintang sinetron” yang
sebetulnya sangatlah tidak pantas dalam kehidupan
nyata mereka kemas dan dilakonkan seakan-akan itu
adalah hal yang wajar untuk dilakukan sehari-hari.
Lambat laun akan tertanam dalam otak kecil para remaja
dan anak-anak kita bahwa segala penyimpangan
(kekerasan, kejahatan dan seks bebas para lakon
sinetron) adalah hal yang wajar dilakukan. Saat ini
mulai terlihat hasil pembelajaran “Guru privat yang
jahat” ini, ada anak smp yang menculik dan menghajar
teman sekelasnya hanya karena masalah cewek, juga
genk-genk di sekolah (ini pasti bukan niru sinetron?)
lihat juga gaya pacaran remaja di sekitar kita (atau
kita sendiri?) yang sering tanpa batas (seks bebas)
kalau dulu hanya beredar dari mulut ke mulut kini
video adegan mesumnya sudah beredar (ini juga pasti
bukan karena niru sinetron tapi niru temannya yang
sudah tercuci otaknya oleh gaya hidup bebas yang
mereka tonton tiap hari).
Yang paling dirugikan dengan TV yang semakin jahat
tentu saja kita para konsumen, sedangkan para pembuat
sinetron (PH) dan para pengiklan hanya memikirkan
rating dan keuntungan yang mereka dapat walau mereka
berdalih sinetron ini juga menghidupi banyak orang
tapi seharusnya gak sak enake dewe bikin sinetron.
(Lagi-lagi kita butuh pemerintah untuk mengatur ini)
Minimal ada pesan-pesan moral beradab yang terkandung,
bukan dengan mengejar larisnya sinetron-sinetron yang
hanya mengajarkan pola hidup dari antah berantah yang
di telan habis-habis tanpa sisa. LSF dan KPI pun jadi
mandul kena siasat mereka, seperti sinetron-sinetron
kejar tayang yang pengerjaannya hanya beberapa menit
sebelum ditonton pemirsa di TV KAPAN NYENSORNYA??belum
lagi tayangan yang seharusnya untuk konsumsi dewasa
yang biasanya ditayangkan untuk tontonan keluarga
(katanya bisa menyebabkan pendewasaan yang prematur),
KPI kudu tegas karena mereka yang punya wewenang atas
pelanggaran (apa emang ada KKN ya soalnya pasti
melibatkan uang seng uakeh) biar para PH gak menjelma
menjadi Untochable, buat para pekerja seni jangan
hanya demo penjurian film indonesia atau gara-gara
terhalang kreativitas berkarya atau kebebasan berkarya
atau demo-demo lainnya, tapi perbaiki juga “BARANG
BUATAN” kalian.Biar gak semakin merosot moral bangsa
ini jangan asal modal nyeleneh dan hantam kromo tok!.
Buat yang masih setia nonton TV mbok yo diseleksi
jangan apa aja ditonton.
Lihat juga berita-berita di koran dan TV sudah
berulangkali kecelakaan terjadi bahkan sampai
mengakibatkan hilangnya nyawa bocah-bocah kecil karena
mereka meniru adegan dari acara TV yang ditontonnya,
kalau untuk para remaja karena mereka sudah bisa
membedakan hal-hal yang berbahaya mereka memang tidak
akan meniru adegan di film Naruto tapi bukan berarti
mereka tidak mengalami kecelakaan walau mungkin hanya
secara moral dan sosial yang tentunya tidak akalah
bahaya dan merugikan. Sekedar mengingatkan diri saya
dan pembaca semua TIDAK SEHARUSNYA TONTONAN ITU JADI
TUNTUNAN moso ga iso cari tuntunan yang laen…..(*)

Dari berbagai sumber

7 Komentar

  1. Wah, kedisikan nulis tentang teve, rek… Tapi gak opolah.. mesti bedo, kan?

  2. yo gak popo cak, semakin akeh semakin apik iso teko dari macem-macem pandangan

  3. Pengamatan anda banyak benarnya. saya sependapat itu. Namun semua teknologi (termasuk TV), ibarat pisau bermata dua. Semua tentu tahu, bahwa selain (diharapkan) membawa manfaat, namun tak ayal banyak juga(ternyata) mudaratnya. antara lain seperti anda tulis. terlepas dari itu, kita tak mungkin menghindar dari kehadiran teknologi. Di jaman flenstone dulu, orang memusuhi tekologi pisau, karena dianggap barang berbahaya, bisa membunuh orag. Tapi sekarag, siapa orang yang tak menyimpan pisau di dapur. Jadi, yang perlu kita pikirka terhadap kehadiran tekologi adalah bagaimana mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat. Ini memang terdengar sangat klise, tapi ya begitulah seharusnya. Ini pekerjaan berat, susah diwujudkan. Kembali ke persoalan peran media massa (termasuk TV). Tak bisa dipungkiri, dewasa ini media telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Di negara maju, media telah mempengaruhi hampir sepanjang waktu hidup seseorang. Bahkan seorang insinyur ternama Amerika Serikat, B. Fuller mengatakan bahwa media telah menjadi “orang tua ketiga” bagi anak (guru adalah orang tua kedua). sayangnya, si orang tua baru bagi anak-anak kita ini tak selalu mampu mendidik anak-anak kita. Ttutan bisnis, barang kali memaksa stasiun TV untuk tak bisa berbuat yang lebih edukatif dari itu. Membuat program acara TV yang mendidik memang tak mudah. Kalupun ada mungkin mahal, tak menarik ata tak laku jual.. Itulah repotnya. Ibarat minuman, media pendidikan itu ibarat jamu. Dianggap penting, tapi tak enak rasanya. Sedangkan media intertaiment itu ibarat cocacola, Kalo kepada anak diminta bebas memilih, yang sudah pasti akan pilih minm cocacola dibandng jamu hheee (saya juga).. Yang harus kita lakukan sekarang adalah, bagaimana membuat jamu rasa cocacola. Bagaimana membuat program Tv yang mendidik sekaligus menghibur anak. Bagaimana membuat anak suka seolah-olah merasa sedang nonton hiburan, padahal ia sedag belajar melalui Tv, Nah susah kan? Itu pekerjaan yang sedang saya tekuni saat ini. Salam kenal.

  4. Bang, tukang sambel. Saya tertarik dengan posting anda ini. Kebetulan ini bidang kerjaan saya. Saya mohon ijin tulisan anda dan komen saya ini aku link, refer dan terbitkan di blog saya. Blog anda bagus, bisa jadi inspiratorku. Tk

  5. Salam juag kenal bang Aristo, senang sekali sampean berkunjung dan membaca tulisan saya apalagi ternyata punya pandangan yang sama dan kebetulan juga ini bidangnya sampean.

    untuk masalah link dan refer, monggo saja dengan senang hati di link

  6. maksud menulis posting diatas dengan menyebutkan sederet bahaya dan kejelekan televisi adalah menggugah dan mengorek kesadaran untuk bisa memanfaatkan teknologi dengan lebih baik dan jangan sampai semua yang tersaji kita telan dengan sukarela karena seharusnya kita bisa mendapatkan yang jauh lebih baik lagi dan seandainya belum bisa mendapat yang lebih baik kenapa yang merugikan tidak kita hentikan saja (sementara?), meniscayakan teknologi (televisi) juga gak mungkin

  7. […] Guru Yang Jahat ? Ditulis pada 8 April, 2008 oleh Aristo Sebuah posting  menyebutkan bahwa hanya 15% acara televisi (TV) yang aman ditonton anak-anak, dan 85% lainnya […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s