Mengkeret

Saat membaca berita di koran tentang naiknya harga minyak goreng curah yang memukul para pedagang makanan, gorengan dan industri kecil lain yang menggunakan minyak goreng tidak terpikir sama sekali bahwa hobi baru saya memelihara burung kenari bakal bernasib sama, mengkeret seperti ukuran kerupuk blek (kaleng) di warung-warung yang menurut pengakuan pedagangnya memang sengaja diperkecil ukurannya untuk menyiasati harga minyak goreng.
Dari kecil saya memang suka sekali dengan hewan piaraan semacam burung, marmut, ayam dan binatang-binatang lain yang lazim dipelihara jadi belum pernah punya peliharaan yang sangar semacam macan atau ikan hiu, kalau ikan paling juga ikan cupang. Di awal masa kuliah memang masih sempat punya peliharaan burung kenari tapi cuman sebentar dan tidak pernah lagi punya peliharaan. Nah setelah hampir 14 tahun punya binatang peliharaan, entah kenapa saya kambuh ingin punya peliharaan setelah melihat burung kenari di rumah seorang teman.
Akhirnya saya membeli tiga ekor burung kenari yang berumur 4 bulanan, dua warna hijau dan seekor lagi warna oranye seharga Rp 85.000 ribu. Tapi ternyata saya masih belum puas dan terobsesi untuk memiliki kenari berwarna putih karena sangat jarang yang memeliharanya, tapi ternyata agak sulit juga mencarinya sebab para peternak lebih fokus mengawinkan kenari betina dan jantan dengan kombinasi warna yang diharapkan bisa menghasilkan anak kenari yang berwarna kuning dan oranye yang harganya lebih mahal.
Belum selesai perburuan saya mencari kenari putih polos, seorang teman menawarkan untuk membeli secara borongan per 10 ekor kenari hanya dengan Rp 250.000 milik seorang peternak yang kebetulan akan berangkat ke Kalimantan karena mendapatkan pekerjaan di sana. Saya sangat tertarik karena kenari-kenari yang ditawarkan memiliki warna-warna yang punya nilai jual tinggi (tapi tetep gak ada yang putih polos), dengan gampang saya hitung saja bahwa per ekor jatuhnya hanya Rp 25.000 dan di pasar burung, kenari dengan spek seperti ini pasti harganya lebih dari Rp 40.000 jadi saya berpikir bila memelihara 10 ekor terlalu banyak sisanya akan saya jual saja ke pedagang di pasar burung.
Saat kami ngobrol tentang kenari-kenari yang akan kami beli kebetulan ibu penjaga warung tempat saya ngopi dan ngobrol suaminya juga peternak kenari, jadi dia ikut nimbrung “tapi susah mas, udan-udan ngene kenari gampang pilek gak ono panas, wes ngono pakane mundak terus moso minggu winggi sak kilo Rp 22.000 mau tuku wes Rp 26.000,”. Walah… langsung nyadar bahwa saya tidak punya kurungan untuk tempat 10 ekor kenari itu dan segera berhitung berapa pengeluaran saya gara-gara membeli lagi 10 ekor kenari. Sepuluh kurungan dikira-kira saja satu kurungan Rp 20.000. sepuluh kenari sebulan gak bakal cukup pakan satu kilogram belum lagi sayurannya belum lagi kalau ada yang netes anake, telor puyuh juga harganya naik terus, walah kok larang temen ditambah lagi waktu yang harus disiapkan untuk merawat seperti menjemur dan bersih-bersih kandange.
Saya pun ngomong kepada teman saya “Win pantes ae di dol murah lah ancen rego pakane koyo ngono, paling nek di dol nang pasar iso-iso gak payu 25 ewu,”. “lah ancen sembarang wayahe mundak tolek pangane dewe ae angel sopo kate gelem repot ingon-ingon, wes warahen koncomu gak sido gak nuruti seneng.” Spontan semangat saya menambah koleksi kenari kenari saya mengkeret puret kaya kerupuk blek yang seharga 100 rupiah yang tambah mini teringat berbagai macam kenaikan harga dan biaya hidup.

5 Komentar

  1. Hi Sambal Petis, makasi ya udah mampir ke Blog InesT. Aku ga keberatan ko kita pake bahasa Indonesia, tapi jangan bahasa Jawa ya. Padang aku jabanin deh, LOL!

    MMhh, tentang kenaikan harga minyak, mamiku juga mengeluh dan pastinya ini menganggu seluruh lapisan masyarakat. Semoga kita segera pulih dari kondisi ini, AMIN..

    Sering2 mampir ya kamu….
    Makasi sekali lagi ya

    INEST

    terima kasih sudah berkunjung Nest!

    semoga segera pulih, Amin…!

    OK

  2. kenari kan kecil, kalo digoreng bisa mengirit minyak toh!😆

    sampean disik ae cak, ntar aku kirimono nek enak tak cobake usul sampean hehehe

  3. gimana toh, burungnya belum kepegang kok udah mengkeret🙂
    *burung toh???*🙂

    iyo cak, burung hehehe

  4. yang mengkeret semangatnya doang kan cak, bukan………….hehe…………

    bukan semangatnya doang mbak tapi juga kerupuknya….

  5. eh kenari di kasih makan pakai nasi aking doyan ngga ya? kalo doyan kan jadi agak berhemat tuh😀

    walahh! bikin nasi akingnya yang susah, dimakan orangnya sendiri kok😀


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s